Labirin Mimpi

Fulan tidak menangis. Ia penasaran dengan mainan-mainan di dalam kelas. (Ilustrasi: ChatGPT)

Fulan kecil berdiri di depan gerbang sekolah, menggenggam tangan ibunya erat. Matanya menatap anak-anak lain yang menangis, beberapa bersembunyi di balik tubuh orang tua mereka. Tapi Fulan tidak menangis. Ia justru penasaran dengan mainan-mainan di dalam kelas.

“Bu, boleh main dulu?” tanyanya sambil menunjuk ayunan di halaman.

Ibunya tersenyum, berjongkok menyamakan tinggi dengannya. “Boleh, tapi sebentar ya. Nanti kamu masuk kelas, kenalan sama bu guru dan teman-teman baru.”

Hari-hari di TK penuh warna. Ia belajar menggambar, mengenali huruf, bernyanyi, dan sesekali bertengkar kecil dengan teman sebangkunya karena berebut krayon. Saat pulang, ia selalu bercerita dengan penuh semangat.

“Bu, tadi aku dapat bintang dari bu guru!” serunya sambil menunjukkan gambar rumah dengan matahari besar di sudutnya.

Ibunya mengusap kepalanya. “Wah, bagus sekali gambarnya! Nanti ditempel di dinding ya.”

Tahun berlalu, dan Fulan memasuki SD. Ia mulai mengenal arti tugas, PR, dan betapa menegangkannya menunggu hasil ujian. Kadang-kadang, ia malas belajar, lebih suka bermain layangan atau bersepeda dengan teman-teman di sore hari.

Setiap pagi sebelum berangkat sekolah, ia selalu mendekati ibunya dan berkata, “Bu, doain ya…” Ibunya tersenyum, mengusap kepalanya, dan mendoakan yang terbaik untuknya.

Suatu malam, saat mengerjakan PR, Fulan menggerutu, “Kenapa sih harus belajar perkalian? Kayaknya aku nggak akan butuh ini kalau sudah besar nanti.”

Ayahnya tertawa kecil. “Coba kamu ingat-ingat lagi, dulu kamu juga bilang nggak mau belajar baca. Sekarang kalau nggak bisa baca, bisa apa?”

Saat lulus SD, Fulan mengambil keputusan besar: ia memilih sekolah SMP sambil mondok di Jawa Timur. Tekadnya kuat ingin menjadi mubaligh, seperti kakak-kakaknya. Ia ingin mendalami ilmu agama, belajar berbicara di depan banyak orang, dan memahami bagaimana menjadi panutan bagi sesama. Meski harus berpisah jauh dari keluarga, ia yakin bahwa ini adalah jalan yang tepat untuknya.

Memasuki dunia pesantren, Fulan mulai merasakan banyak perubahan. Ia semakin mandiri, belajar mengatur waktunya sendiri, dan beradaptasi dengan lingkungan baru. Di usianya yang beranjak remaja, ia juga mulai sadar dengan penampilannya, merasa canggung berbicara dengan lawan jenis, dan memahami bahwa tidak semua teman adalah sahabat. Ada saat-saat ia kecewa karena dikhianati, tetapi ada juga momen bahagia saat tertawa lepas bersama teman-temannya di kantin.

Di tengah kesibukannya belajar dan menghafal pelajaran, ia tetap mempertahankan kebiasaannya sejak kecil. Setiap kali menelepon ke rumah, sebelum menutup panggilan, ia selalu berkata, “Bu, doain ya…” Ibunya di seberang sana tersenyum, mengusap air mata rindu, dan seperti biasa, mendoakan yang terbaik untuknya.

Lulus SMP, Fulan juga menyelesaikan masa mondoknya dan berhasil lulus tes mubaligh. Dengan penuh kebanggaan, ia kembali ke rumah bersama orang tuanya. Setelah bertahun-tahun jauh dari keluarga, kini ia bisa menikmati waktu lebih banyak di rumah. Namun, perjalanan pendidikannya belum selesai. Ia melanjutkan sekolah di SMA di kotanya, memasuki fase kehidupan yang penuh tantangan baru.

Di SMA, hidupnya terasa seperti rollercoaster. Ujian semakin sulit, tuntutan semakin besar, dan masa depan mulai terasa seperti bayangan yang mendekat. Namun, di sela-sela kesibukannya sekolah, teman-temannya sering memintanya mengajar mengaji. Awalnya, ia hanya membantu sesekali, tetapi lama-kelamaan semakin banyak yang datang padanya, meminta bimbingan membaca Al-Qur’an atau sekadar bertanya tentang pelajaran agama. Ia merasa senang bisa berbagi ilmu, seolah apa yang ia pelajari di pesantren benar-benar bermanfaat.

Suatu malam, saat sedang mengerjakan tugas, ia termenung dan bertanya pada ibunya, “Bu, nanti aku kerja jadi apa ya?”

Ibunya tersenyum. “Apa yang kamu suka?”

Fulan terdiam. Ia suka banyak hal—belajar agama, berbicara di depan orang, mengajar, tapi ia belum tahu mana yang benar-benar ingin ia jalani.

Setelah lulus SMA, Fulan memutuskan untuk kuliah di jurusan Jurnalistik. Dalam hati, ia bermimpi menjadi wartawan terkenal, bisa meliput tempat-tempat eksotis, berkeliling dunia, dan menulis cerita yang membuat namanya dikenal banyak orang.

Namun, kenyataan dunia kuliah tak seperti yang ia bayangkan. Kuliah di jurusan Jurnalistik ternyata penuh tantangan. Ia harus menghadapi banyak tugas menulis yang tak selalu menarik, persaingan ketat di dunia media, dan kenyataan bahwa tak semua wartawan bisa hidup nyaman.

Setelah lulus, ia diterima bekerja sebagai wartawan di sebuah majalah korporasi kecil. Gaji yang diterimanya pas-pasan, cukup untuk kontrakan sempit dan makan sehari-hari. Jauh panggang dari api impian masa mudanya tentang rumah mewah, mobil mengkilap, dan liburan keluarga ke luar negeri.

“Jadi wartawan itu keren, kan?” tanya seorang teman lamanya saat mereka bertemu di sebuah warung kopi.

Fulan tertawa kecil. “Keren di mana? Gajinya pas-pasan, kerjanya banyak, deadline nggak kenal waktu,” jawabnya, meski dalam hatinya ia tahu, ada bagian dari pekerjaannya yang tetap ia cintai.

Setiap bulan, ia menghitung pengeluarannya dengan cermat. Gaji hanya cukup untuk membayar sewa kos, makan, dan kebutuhan sehari-hari. Mimpi-mimpinya seakan semakin jauh. Dunia jurnalisme yang ia pilih tidak memberikan kebebasan seperti yang ia bayangkan.

Namun, meskipun hidupnya tidak sesuai dengan impian-impian masa mudanya, Fulan mulai menemukan makna dalam hal-hal kecil. Ia menyadari bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari pencapaian materi, melainkan dari kedamaian dalam menjalani kehidupan sehari-hari dan hubungan yang erat dengan orang-orang terdekat.

Hidup membawanya ke babak baru. Ia menikah, memiliki anak, dan bertanggung jawab atas keluarga kecilnya. Kini, ia bekerja bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk istri dan anak-anaknya.

“Ya ampun, capeknya…” keluhnya suatu malam sambil menggendong anaknya yang rewel.

Istrinya tertawa kecil. “Katanya mau punya anak banyak?”

Fulan tersenyum lelah. “Iya… tapi aku nggak tahu kalau bakal begini rasanya.”

Hari-hari berlalu, anak-anaknya tumbuh, mengisi hidupnya dengan tawa dan tangis. Ia mulai terbiasa dengan rutinitas, dengan lelah yang terasa manis.

Ia mulai merasakan tubuhnya tak sekuat dulu. Langkahnya lebih lambat. Napasnya sering terasa berat. (Ilustrasi: ChatGPT)

Lalu, waktu berjalan lebih cepat dari yang ia sadari. Anak-anaknya beranjak dewasa, mengejar mimpi mereka sendiri. Rumah yang dulu ramai kini lebih sering sunyi.

“Rasanya baru kemarin mereka masih kecil,” ucap istrinya pelan.

Fulan tersenyum. “Iya… cepat sekali waktu berlalu.”

Ia mulai merasakan tubuhnya tak sekuat dulu. Rambutnya telah memutih, langkahnya lebih lambat. Napasnya sering terasa berat ketika asmanya kambuh.

Suatu malam, ia duduk di teras, menatap langit yang penuh bintang. Angin malam membelai wajahnya yang mulai dipenuhi keriput. Ia mengingat perjalanan panjang yang telah ia lalui—masa kecilnya yang penuh impian, masa mudanya yang penuh pencarian, hingga hari ini, di mana ia telah menemukan makna kehidupan dalam keluarga dan cinta.

Matanya menerawang ke kejauhan. Ia menyadari bahwa tubuhnya semakin lemah, napasnya tidak lagi sekuat dulu. Kadang-kadang, ia terbangun di malam hari dan bertanya dalam hati: “Apakah aku sudah siap?”

Hatinya berdesir. Tak terasa air matanya meleleh. Ia tahu, waktu terus berjalan, dan suatu hari, ia akan mengucapkan selamat tinggal. Tapi ia tidak takut. Ia merasa telah menjalani hidup dengan sebaik-baiknya.

Ia menarik napas dalam, tersenyum kecil.

“Hidup ini memang penuh kejutan,” gumamnya.

Di kejauhan, suara adzan subuh berkumandang, menandai awal hari baru. Di bawah langit yang sama, seorang anak kecil –seperti dirinya—menatap langit yang penuh bintang. Mungkin sedang bermimpi tentang masa depan. Tentang siklus kehidupan yang terus berputar. /* EI

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *