Bangun Rumah Tangga Harmonis, LDII Tangsel Gelar Pengajian untuk Pasangan Usia Nikah 6–10 Tahun

Tangerang Selatan (17/5). DPD LDII Tangerang Selatan kembali menggelar Pengajian Sarimbit di Gedung Serbaguna Garuda, Cirendeu pada Minggu (17/5). Kegiatan ini mengangkat tema “Api Cinta yang Tak Meredup” diikuti pasangan suami istri dengan usia pernikahan 6–10 tahun. Acara berlangsung hangat dan penuh antusias.

Ketua acara, Yulianto, menyampaikan bahwa pengajian ini disusun berdasarkan jenjang usia pernikahan karena setiap fase membutuhkan pembinaan berbeda. “Setiap tingkatan usia pernikahan pasti memiliki problem yang berbeda, karena itu konsep pengajian dibuat per lima tahun usia pernikahan,” ujarnya.

Ia menjelaskan kegiatan ini bertujuan menjadi sarana bagi pasangan suami istri untuk membangun komunikasi yang lebih baik, memahami kewajiban masing-masing, serta mewujudkan keluarga yang harmonis dan sakinah, mawaddah, warahmah.

Dalam sesi wawancara, pemateri Benari Saraswardini menjelaskan bahwa usia pernikahan 6–10 tahun merupakan fase ketika pasangan mulai menghadapi realita kehidupan rumah tangga. “Kalau di fase awal pernikahan masih terasa indah dan romantis, maka di usia 6–10 tahun pasangan mulai dihadapkan pada kesibukan, ekonomi, dan tanggung jawab rumah tangga. Hal-hal kecil yang tidak disadari bisa menjadi pemicu konflik besar,” jelasnya.

Ia menekankan pentingnya menjaga “segitiga cinta” dalam hubungan, yakni komitmen, rasa cinta, dan kedekatan emosional agar tetap seimbang. Selain itu, pasangan juga perlu memiliki strategi untuk terus membangun dan memahami cinta satu sama lain. “Dengan memahami bahasa cinta pasangan, kita bisa mencintai sesuai dengan apa yang diharapkan pasangan,” jelasnya.

Benari juga menyoroti bahwa komunikasi yang santun dan efektif menjadi kunci menjaga keharmonisan rumah tangga. “Bukan hanya kata-katanya, tetapi juga nadanya. Ketika pasangan merasa nyaman dan tenang saat diajak berbicara, konflik dalam rumah tangga bisa berkurang,” tambahnya.

Allysa dan Deni, peserta pengajian sarimbit, mengaku momen paling berkesan dalam kegiatan ini adalah saat pasangan diminta duduk saling berhadapan dan mengungkapkan perasaan masing-masing. “Kami jadi tahu apa yang diharapkan pasangan, bisa saling memahami, dan saling memaafkan,” ujar mereka. Keduanya berharap kegiatan serupa dapat terus diadakan untuk berbagai jenjang usia pernikahan agar para pasangan suami istri dapat terus belajar membina rumah tangga hingga akhir hayat. (Isqy/Lintas)