Kisah dikeluarkannya Nabi Adam dan Siti Hawa dari surga bukan sekadar cerita penciptaan manusia pertama. Ini juga tentang bagaimana mereka tergoda oleh tipu daya Iblis hingga terusir dari surga. Iblis membisikkan kebohongan, memutarbalikkan fakta, sampai Adam dan Hawa mempercayainya. Dari sini, kita belajar bahwa kebohongan, sekecil apa pun, bisa membawa dampak besar.
Allah menempatkan Adam dan Hawa di surga dengan segala kenikmatan. Ada satu larangan: mereka tidak boleh mendekati dan memakan buah dari sebuah pohon tertentu. Tapi Iblis punya cara licik. Ia membujuk Adam dengan berkata: “Wahai Adam, maukah aku tunjukkan kepadamu pohon keabadian dan kerajaan yang tidak akan binasa?” (QS. Thaha: 120).
Godaan itu berhasil. Allah berfirman: “Lalu, mereka berdua memakannya sehingga tampaklah oleh keduanya aurat mereka dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga. Adam telah melanggar (perintah) Tuhannya dan khilaflah dia.” (QS. Thaha: 121).
Dari kisah ini, kita melihat bagaimana Iblis menyebarkan kebohongan yang terlihat meyakinkan. Adam dan Hawa tidak bermaksud melanggar perintah Allah, tapi mereka tertipu informasi palsu. Akibatnya, mereka harus menanggung konsekuensi besar: dikeluarkan dari surga.
Fenomena ini ternyata masih relevan sampai sekarang. Di era digital, informasi menyebar begitu cepat lewat media sosial dan pesan singkat. Sayangnya, tidak semuanya benar. Banyak hoax, fitnah, dan berita palsu yang bisa menyesatkan, menimbulkan kebencian, bahkan merusak persaudaraan.
Islam mengajarkan kita untuk menyaring informasi sebelum membagikannya. Allah berfirman dalam Al-Qur’an: “Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan(-mu), yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6).
Tiga Filter Sebelum Sharing
Agar tidak terjebak menyebarkan berita bohong, ada tiga hal yang harus kita perhatikan sebelum membagikan informasi:
Kejujuran adalah prinsip utama dalam Islam. Jika suatu informasi belum terbukti benar, menyebarkannya sama saja dengan menyebarkan fitnah.
Dalam sejarah Islam, pernah terjadi fitnah terhadap Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha. Berita bohong menyebar luas hingga menimbulkan kegelisahan di kalangan umat Muslim.
Namun akhirnya Allah menurunkan wahyu yang membersihkan nama beliau (QS. An-Nur: 11-12): “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah kelompok di antara kamu (juga)… Mengapa orang-orang mukmin dan mukminat tidak berbaik sangka terhadap kelompok mereka sendiri, ketika kamu mendengar berita bohong itu, dan berkata, “Ini adalah (berita) bohong yang nyata?”
Rasulullah SAW bersabda: “Jauhilah prasangka, karena prasangka adalah perkataan yang paling dusta.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Tidak semua informasi yang benar perlu disebarkan. Ada informasi yang benar, tapi jika disebarluaskan justru menimbulkan keresahan atau perpecahan. Islam mengajarkan kita untuk menyebarkan informasi yang membawa kebaikan.
Allah berfirman: “Katakan kepada hamba-hamba-Ku, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (dan benar). Sesungguhnya setan itu selalu menimbulkan perselisihan di antara mereka.” (QS. Al-Isra’ : 53).
Misalnya, jika kita mengetahui kesalahan seseorang, apakah harus langsung diumumkan ke publik? Tidak. Islam mengajarkan agar kita menegur secara pribadi dan dengan cara yang baik, bukan mempermalukan.
Tidak semua yang kita ketahui harus kita sebarkan. Jika sebuah informasi tidak berdampak penting bagi masyarakat, lebih baik tidak menyebarkannya.
Rasulullah SAW bersabda: “Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi).
Banyak orang membagikan berita hanya karena menarik atau mengejutkan, tanpa berpikir apakah itu penting atau tidak. Misalnya, berita tentang kehidupan pribadi seseorang yang tidak ada hubungannya dengan kepentingan umum. Hal seperti ini bisa menimbulkan ghibah atau bahkan fitnah.
Sebaliknya, informasi yang penting—seperti edukasi kesehatan, ajakan kebaikan, atau peringatan yang bermanfaat—itulah yang harus kita sebarkan agar membawa manfaat bagi banyak orang.
Jangan Mudah Share, Saring Sebelum Sharing!
Kisah Nabi Adam dan Hawa mengajarkan kita bahwa kebohongan bisa membawa malapetaka. Di era digital ini, kita menghadapi tantangan yang sama: informasi yang terlihat menarik, tapi belum tentu benar. Oleh karena itu, kita harus selalu memeriksa kebenarannya sebelum membagikan berita. Pastikan informasi yang kita sebar adalah benar, baik, dan penting.
Dengan menerapkan prinsip ini, kita bisa menjadi agen penyebar kebaikan, bukan penyebar hoax. Yuk, mulai sekarang bijak dalam berbagi informasi agar tidak jatuh ke dalam kesalahan yang sama seperti Nabi Adam dan Siti Hawa! /* EI/AI.