
Tangerang Selatan (25/12). DPD LDII Tangerang Selatan menggelar lokakarya komunikasi empatik pada Kamis (25/12). Bertajuk “Jembatan Hati, Komunikasi Empatik dalam Menjemput Jodoh Mulia”, lokakarya ini bertempat Gedung Serba Guna (GSG) Baitussalam, Pondok Cabe.
Acara ini diikuti oleh 50 peserta yang merupakan utusan dari PC dan PAC LDII Se-Tangerang Selatan. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi peserta dan meminimalisir gap komunikasi antargenerasi.
Dilansir dari Badan Pusat Statistik (BPS), tren pernikahan di Indonesia terus menurun dalam satu dekade terakhir. Tercatat 1.478.302 pernikahan pada tahun 2024, turun 6,3% dibanding tahun 2022.
Rendahnya angka pernikahan menjadi fenomena yang perlu disoroti. Pasalnya, bayang-bayang depopulasi menjadi ancaman yang harus dimitigasi untuk mewujudkan program jangka panjang Indonesia Emas 2045.
Menyikapi isu tersebut, Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Kesejahteraan Keluarga (PPKK) LDII Tangerang Selatan membuat berbagai program salah satunya peningkatan kapasitas tim sukses ta’aruf. Selain itu, pembekalan bagi remaja pranikah juga rutin diselenggarakan.

Dalam kesempatan itu, Narasumber, Benari Saraswardini atau yang akrab dipanggil Dini, menekankan pentingnya pendekatan kepada anak muda dengan menyesuaikan zaman. Disamping itu, orangtua juga perlu berempati dan lebih banyak mendengarkan anak muda tanpa penghakiman.
“Kita perlu tau kenapa anak kita menunda atau menolak untuk menikah, bisa jadi karna terlalu banyak informasi negatif tentang pernikahan. Dengan mengetahui akar masalahnya kita lebih mudah melakukan pendekatan ke mereka,”ujar Dini.
Lebih lanjut, Dini memaparkan kiat-kiat berkomunikasi dengan generasi pranikah saat proses ta’aruf. Ia juga menuturkan bagi perantara ta’aruf penting untuk memilih diksi yang tepat serta gerak tubuh yang hangat agar calon pengantin merasa nyaman dan lebih terbuka.
“Saat ta’aruf, ada proses matching yaitu menganalisa kecocokan antar kedua calon, kemudian penyampaian informasi dengan teknik sandwich dimana informasi yang kurang baik disampaikan dengan kata-kata netral, dan handle rejection, dimana sebagai perantara kita tidak memaksakan kehendak calon dan kita bisa evaluasi kembali proses ta’aruf yang sudah dijalankan,”jelasnya.
Menurutnya, dengan komunikasi empati dan efektif generasi pranikah akan lebih terbuka dengan proses ta’aruf. “Jangan sampai ta’aruf menjadi momok menakutkan bagi generasi pranikah, dan niat baik kita sebagai perantara tidak tersampaikan,”ucap Dini.
Sementara itu, Yulianto selaku Ketua Penyelenggara, mengatakan kegiatan ini dirancang sebagai lokakarya atau workshop sehingga pembelajaran bersifat aktif. “Peserta diberikan studi kasus dan simulasi untuk praktek materi, jadi bisa lebih paham,” ucap Yulianto.
Yulianto berharap setelah kegiatan ini pernikahan proses ta’aruf di generasi LDII dapat berjalan lancar. “Dengan komunikasi empatik dan ta’aruf yang tepat dapat terwujud keluarga yang harmonis dan sejahtera,”pungkasnya. (Thifla/Lintas).